Senin, 17 Januari 2022

Cinta untuk motor, kamu pernah?

 Cinta.


Rasanya ingin sekali melepasmu, kau sudah terlalu tua, masamu sudah usai, kau tidak bisa lagi ada disetiap waktu, tubuhmu sudah tak sanggup, terkena hujan sedikit saja kau sudah sakit. Semakin aku menarik gasmu, semakin sering juga bagian tubuhmu bermasalah, kau memang masih terlihat sangat gagah, tapi aku tahu kau sudah renta.
Sungguh aku ingin menjualmu.

Namun, apa daya, kau seperti bisa membaca situasi, kau bisa memilih kapan waktunya kau jatuh sakit. ketika aku sedang membawa seorang yang special, kau sama sekali tidak bermasalah, yaah walau sesekali kau bersikap menjengkelkan, tapi aku mengerti, itu semua karena tubuhmu yang sudah tak tahan lagi.
Jika kau bisa berbicara, aku yakin kau akan menyerah.
Terima kasih untuk tak pernah menyerah, dan maaf aku terlalu memaksamu hanya untuk terlihat keren.

Selamat tinggal. Semua kenangan selalu terukir dihati, kau tak perlu khawatir, kau akan selalu menjadi bagian penting dalam masa mudaku.

Rabu, 22 Desember 2021

Rumah?

 

Aku ingin kau jadikan aku tempat bernama rumah, bukan tempat sementara singgah.


Ketika kau mulai merasa tak sanggup, kau boleh saja melepas topeng tanggung jawabmu. Ketika kau sedang menelusuri dunia, kau boleh saja berhenti sejenak untuk merenung. Ada kalanya kau sedang merasa berada dititik terendah, ada rumah yang akan menyambutmu. Ketika kau menemukan kegagalan, kau boleh pulang kerumah tanpa harus membawa kabar baik.
Hidup memang tidak adil, karena itu kau tak perlu mencapai segalanya, tetap ada rumah yang akan menerimamu apa adanya.

Kamu juga tak perlu menjadi nomor satu di dunia ini. Faktanya ada beberapa orang yang tak ingin kau berpikir tentang nomor berapa kamu. Ada beberapa orang yang hanya ingin kau menjadi semengalir, seotentik, dan sespontan kau yang sebenar-benarnya.
Beberapa orang tersebut mencitaimu ketika kau adalah dirimu.
Beberapa orang tersebut adalah rumah.

Dan aku adalah bagian dari beberapa orang tersebut.

Sebagai sebuah tempat bernama rumah bagimu, tentunya aku ingin menjadi yang paling ramah menyambutmu. Aku ingin kau senyaman mungkin menceritakan pelik kisahmu. Namun, apa daya, aku bukanlah rumah yang kokoh, sesekali aku memikirkan apakah aku membuatmu nyaman? apakah aku mampu menjadi sebuah rumah yang tak membuatmu malu ketika kau membawa temanmu berkunjung?

huft... ingin sekali aku menanyakan hal itu langsung kepadamu. tetapi, seperti yang sudah aku bilang, aku bukanlah rumah yang kokoh, aku terlalu takut untuk bertanya, takut roboh tak berarti.

Yah, setidaknya aku selalu ingin menjadi rumahmu, biarpun aku tak sekokoh dan sebagus rumah yang lain. Namun, aku tetap berharap kau memilihku menjadi rumah utama.






















Selasa, 17 Agustus 2021

Makna Kemerdekaan

    Dari tahun 2018, mengibarkan sangsaka merah putih di puncak merupakan suatu rutinitas, tapi tahun ini sepertinya harus dilepas.

    Bukan karena tak cinta lagi, namun situasi yang tak mengizinkan untuk pergi. Cukup iri sih, melihat foto teman-teman yang tetap berhasil mempertahankan rutinitasnya, namun merayakan kemerdekaan di kota juga memberikan makna, seperti mendengar doa masyarakat, menyaksikan kebahagian orang lain, juga melihat berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini, dan ternyata selama ini yang kulakukan hanyala lari dari masalah.
Dengan entengnya pergi ke hutan, menikmati alam, dan bersikap seolah-olah sudah paling nasionalis.
Akupun sadar, bahwa merayakan kemerdekaan bukanlah tentang mengibarkan bendera di puncak tertinggi, namun tentang menyadarkan diri, sudah berbuat apa untuk Indonesia ini?

Yah..sayangnya aku baru sampai ditahap sadar, belum ditahap berbuat besar.
Jayalah Indonesia, Jayalah negeriku, doaku menyertaimu.

Kamis, 20 Mei 2021

ABU

 ABU


Pada akhirnya kita tidak bersama. Ternyata raguku benar, kau tak benar-benar ada untukku.

Bolehkah aku menyalahkan Tuhan? Atas malangnya takdir ini.

Kenapa orang seistimewa dirimu hanya singgah? Tak bisakah kau menetap? Menjadi bunga, menghias dan jangan pernah membias.

Aku ingin selamanya kau ada, kau pun juga ingin selamanya aku ada, yang berbeda dari kita hanya rasa.

Mungkin rasaku padamu terlalu menggebu, hingga lupa kau menganggapku kelabu.

Bahagia ku pun lenyap, bahkan sebelum lengkap.
Sedihku kambuh, bahkan sebelum sembuh.

Aku, jadi hebat karenamu, dan
kamu, selalu hebat dimataku.
Tanpamu aku punah, dan tanpaku kau sempurna.

Meski bagimu aku terlihat abu, percayalah kau pernah mewarnaiku.
Dan warna darimu akan selalu ku rindu.




Selasa, 23 Oktober 2018

Aku

AKU


Hai semuanya, perkenalkan nama saya Iqbal Akbar Kurniawan, sebuah nama yang cukup panjang menurutku, kalian dapat memanggilku ibal saja. Aku lahir di Kota Curup yang terletak di Provinsi Bengkulu, sebuah kota yang sangat indah dan sejuk, begitu banyak alam yang memuaskan mata, nanti akan kuceritakan deh indahnya kota ini, kali ini aku ceritakan tentang diriku saja.

Okee, jadi kita mulai dari masa SMP ku. Aku menempu pendidikan SMP di sekolah yang jauh dari kata favorit, bisa disebut sekolah para berandal, suatu sekolah yang aku anggap neraka saat hari pertama masuk, suatu sekolah yang para siswanya hanya sekolah karena disuruh orang tuanya, suatu sekolah yang siswanya selalu bermasalah.
Oh iya mengenai diriku, Aku tidak begitu tahu sih bagaimana menjelaskan diriku sendiri, tapi yang jelas saat SMP aku adalah orang yang amat pendiam, tidak ingin bergaul, dan selalu menunduk memandangi handphoneku, bukan karena aku pemalu,tapi aku tidak ingin buang-buang tenaga hanya untuk berinteraksi dengan orang yang belum tentu berpengaruh untukku. Aku sangat pemalas saat itu, mengerjakan tugas saja aku jarang, bahkan saat upacara aku selalu berpura-pura sakit, yah walaupun keterusan sampai sekarang sih... mengenai teman, aku hanya punya sedikit teman ditahun pertama dan kedua masa SMPku, yaa alasannya tetap sama, hanya tidak ingin buang-buang tenaga.
Semua itu berubah ketika aku memasuki tahun ketiga, entah kenapa semua terasa menyenangkan ditahun ketigaku, mulai dari teman sekelasku yang asik, dan sekolah yang mengadakan event-event besar. ditahun ketiga ini juga aku dibuat sadar bahwa kita manusia adalah makhluk sosial, sejak itu aku mulai memperbanyak teman, mencoba menjadi humoris dan tidak malas lagi, dan akhirnya aku merasakan bahagia saat masa SMP. 
Mungkin semua perubahan itu berawal dari diriku yang berubah, ternyata benar kata orang bijak, "jika kau ingin mengubah dunia, mulailah dari dirimu sendiri".