Rabu, 22 Desember 2021

Rumah?

 

Aku ingin kau jadikan aku tempat bernama rumah, bukan tempat sementara singgah.


Ketika kau mulai merasa tak sanggup, kau boleh saja melepas topeng tanggung jawabmu. Ketika kau sedang menelusuri dunia, kau boleh saja berhenti sejenak untuk merenung. Ada kalanya kau sedang merasa berada dititik terendah, ada rumah yang akan menyambutmu. Ketika kau menemukan kegagalan, kau boleh pulang kerumah tanpa harus membawa kabar baik.
Hidup memang tidak adil, karena itu kau tak perlu mencapai segalanya, tetap ada rumah yang akan menerimamu apa adanya.

Kamu juga tak perlu menjadi nomor satu di dunia ini. Faktanya ada beberapa orang yang tak ingin kau berpikir tentang nomor berapa kamu. Ada beberapa orang yang hanya ingin kau menjadi semengalir, seotentik, dan sespontan kau yang sebenar-benarnya.
Beberapa orang tersebut mencitaimu ketika kau adalah dirimu.
Beberapa orang tersebut adalah rumah.

Dan aku adalah bagian dari beberapa orang tersebut.

Sebagai sebuah tempat bernama rumah bagimu, tentunya aku ingin menjadi yang paling ramah menyambutmu. Aku ingin kau senyaman mungkin menceritakan pelik kisahmu. Namun, apa daya, aku bukanlah rumah yang kokoh, sesekali aku memikirkan apakah aku membuatmu nyaman? apakah aku mampu menjadi sebuah rumah yang tak membuatmu malu ketika kau membawa temanmu berkunjung?

huft... ingin sekali aku menanyakan hal itu langsung kepadamu. tetapi, seperti yang sudah aku bilang, aku bukanlah rumah yang kokoh, aku terlalu takut untuk bertanya, takut roboh tak berarti.

Yah, setidaknya aku selalu ingin menjadi rumahmu, biarpun aku tak sekokoh dan sebagus rumah yang lain. Namun, aku tetap berharap kau memilihku menjadi rumah utama.






















Selasa, 17 Agustus 2021

Makna Kemerdekaan

    Dari tahun 2018, mengibarkan sangsaka merah putih di puncak merupakan suatu rutinitas, tapi tahun ini sepertinya harus dilepas.

    Bukan karena tak cinta lagi, namun situasi yang tak mengizinkan untuk pergi. Cukup iri sih, melihat foto teman-teman yang tetap berhasil mempertahankan rutinitasnya, namun merayakan kemerdekaan di kota juga memberikan makna, seperti mendengar doa masyarakat, menyaksikan kebahagian orang lain, juga melihat berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini, dan ternyata selama ini yang kulakukan hanyala lari dari masalah.
Dengan entengnya pergi ke hutan, menikmati alam, dan bersikap seolah-olah sudah paling nasionalis.
Akupun sadar, bahwa merayakan kemerdekaan bukanlah tentang mengibarkan bendera di puncak tertinggi, namun tentang menyadarkan diri, sudah berbuat apa untuk Indonesia ini?

Yah..sayangnya aku baru sampai ditahap sadar, belum ditahap berbuat besar.
Jayalah Indonesia, Jayalah negeriku, doaku menyertaimu.

Kamis, 20 Mei 2021

ABU

 ABU


Pada akhirnya kita tidak bersama. Ternyata raguku benar, kau tak benar-benar ada untukku.

Bolehkah aku menyalahkan Tuhan? Atas malangnya takdir ini.

Kenapa orang seistimewa dirimu hanya singgah? Tak bisakah kau menetap? Menjadi bunga, menghias dan jangan pernah membias.

Aku ingin selamanya kau ada, kau pun juga ingin selamanya aku ada, yang berbeda dari kita hanya rasa.

Mungkin rasaku padamu terlalu menggebu, hingga lupa kau menganggapku kelabu.

Bahagia ku pun lenyap, bahkan sebelum lengkap.
Sedihku kambuh, bahkan sebelum sembuh.

Aku, jadi hebat karenamu, dan
kamu, selalu hebat dimataku.
Tanpamu aku punah, dan tanpaku kau sempurna.

Meski bagimu aku terlihat abu, percayalah kau pernah mewarnaiku.
Dan warna darimu akan selalu ku rindu.