Aku ingin kau jadikan aku tempat bernama rumah, bukan tempat sementara singgah.
Ketika kau mulai merasa tak sanggup, kau boleh saja melepas topeng tanggung jawabmu. Ketika kau sedang menelusuri dunia, kau boleh saja berhenti sejenak untuk merenung. Ada kalanya kau sedang merasa berada dititik terendah, ada rumah yang akan menyambutmu. Ketika kau menemukan kegagalan, kau boleh pulang kerumah tanpa harus membawa kabar baik.
Hidup memang tidak adil, karena itu kau tak perlu mencapai segalanya, tetap ada rumah yang akan menerimamu apa adanya.
Kamu juga tak perlu menjadi nomor satu di dunia ini. Faktanya ada beberapa orang yang tak ingin kau berpikir tentang nomor berapa kamu. Ada beberapa orang yang hanya ingin kau menjadi semengalir, seotentik, dan sespontan kau yang sebenar-benarnya.
Beberapa orang tersebut mencitaimu ketika kau adalah dirimu.
Beberapa orang tersebut adalah rumah.
Dan aku adalah bagian dari beberapa orang tersebut.
Sebagai sebuah tempat bernama rumah bagimu, tentunya aku ingin menjadi yang paling ramah menyambutmu. Aku ingin kau senyaman mungkin menceritakan pelik kisahmu. Namun, apa daya, aku bukanlah rumah yang kokoh, sesekali aku memikirkan apakah aku membuatmu nyaman? apakah aku mampu menjadi sebuah rumah yang tak membuatmu malu ketika kau membawa temanmu berkunjung?
huft... ingin sekali aku menanyakan hal itu langsung kepadamu. tetapi, seperti yang sudah aku bilang, aku bukanlah rumah yang kokoh, aku terlalu takut untuk bertanya, takut roboh tak berarti.
Yah, setidaknya aku selalu ingin menjadi rumahmu, biarpun aku tak sekokoh dan sebagus rumah yang lain. Namun, aku tetap berharap kau memilihku menjadi rumah utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar