Kita masih sebebas itu.
Rasa takut yang tak pernah menganggu.Batas naluri bahaya.
Dulu tingginya melebihi logika.
~Tujuh belas- Tulus
Terkadang ketika mendengar lagu tersebut, rasanya aku tak ingin beranjak pergi.
Bebas dari takut memang semenyenangkan itu, bahkan aku sempat heran, kenapa manusia perlu takut kepada Tuhan yang mengekang kebebasan? Padahal kebebasan itulah yang membuat manusia bahagia.
Namun, akhirnya aku dibuat sadar, Tuhan mengekang manusia agar mereka tak besar kepala, tak selalu merasa kuat, tak selalu meninggi, dan sadar tak ada yang abadi.
Bebas dari takut memang selalu menyenangkan, namun tak selalu barakibat baik. Ketika kamu sudah merasa tak takut apapun lagi, mungkin disitulah kamu harus berhenti bebas.
Rasa takut juga tak selalu berarti buruk. Dulu, mungkin kita tidak takut tentang masa depan, namun seiring waktu kita perlahan mulai takut. Takut tidak jadi apa-apa dan takut membuat kecewa, dan kemudian rasa takut itu membuat kita berusaha lebih kuat, lebih gigih, dan akhirnya kita berhasil menaklukkan rasa takut tersebut. Jadi rasa akut bisa saja membuatmu berkembang.
Walaupun demikian, selalu merasa takut juga tak baik.
Yah, memang seperti itulah, kita tak bisa selalu tetap berada dalam satu kondisi yang sama, rasa yang sama, orang yang sama, secara terus menerus. Jadi relakanlah bebasmu ketika sudah tak baik lagi, dan relakan juga takutmu ketika sudah terlalu mengekang.
Kita manusia, sampai tua nanti akan selalu merelakan.